MASYARAKAT SEBAGAI PUSAT
BELAJAR
Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengembangan
Media dan Sumber Belajar PLS
Dosen
Pengampu
: Dr. H. Irwan Djumena, M.Pd/ Ahmad Fauzi, M.Pd
Disusun Oleh :
Kelompok 3
Faqih Romadhoni (2221160043)
Rini Nofitasari (2221160045)
Dimas Firdaus Kusuma. W (2221160065)
KELAS
: IV-B/PLS
PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH
FAKULTAS KEGURUAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
2018
KATA PENGANTAR
Dengan Memanjatkan puji syukur Alhamdulilah hirobil alamin atas rahmat, taufik
dan hidayahnya akhirnya penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Masyarakat Sebagai Pusat Belajar. Pada kesempatan ini kami mengucapkan banyak terima kasih kepada seluruh
pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini. Semoga makalah ini
mampu memberikan manfaat dan mampu memberikan nilai tambah kepada para
pembacanya. Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna, ini semua karena
terbatasnya pengetahuan yang dimiliki oleh penysun dan waktu yang tersedia.
Untuk itu penyusun mengharapkan kritik dan saran dan bersifat membangun dari
para pembaca.
Penyusun menyadari bahwa tanpa bantuan dari para pembimbing, rekan-rekan
mungkin penyusun akan mengalami kesulitan, maka dalam kesempatan ini penyusun
mengucapkan terima kasih kepada : Ahmad Fauzi, M.Pd , selaku Dosen pengampu mata kuliah Pengembangan Media dan Sumber Belajar PLS, serta Rekan-rekan di pendidikan luar sekolah
angkatan 2016.
Semoga kebaikan bapak ibu dosen dan teman teman mendapat balasan yang
setimpa dari Allah SWT .
Serang, Maret 2018
Penyusun
i
DAFTAR ISI
KATA
PENGANTAR...................................................................................... i
DAFTAR
ISI..................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Rumusan
Masalah...................................................................................... 2
C. Tujuan........................................................................................................ 2
BAB
II PEMBAHASAAN
A. Pengertian Masyarakat....................................................................... …...3
B.
Sumber Belajar........................................................................................... 5
C.
Masyarakat Sebagai Pusat Belajar ............................................................ 6
BAB III PENUTUP
Simpulan............................................................................................................. 10
Daftar Pustaka ………………………………………………………………….11
|
ii
|
BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Masyarakat merupakan manusia yang senantiasa
berhubungan (berinteraksi) dengan manusia lain dalam suatu kelompok (Setiadi,
2013: 5). Kehidupan masyarakat yang selalu berubah (dinamis) merupakan sesuatu
yang tidak dapat dihindari. Manusia sebagai mahluk sosial selalu membutuhkan
manusia lainnya untuk memenuhi kebutuhannya, sebuah keniscayaan manusia bisa
hidup secara individual dalam lingkungannya. Contoh kecil sebuah masyarakat adalah
sekolah yaitu sebuah institusi atau lembaga pendidikan untuk mentransfer ilmu
pengetahuan dengan berjenjang dari SD, SMP, SMA hingga perguruan tinggi. Sekolah
pun tidak bisa melakukan aktivitasnya jika lembaga ini tidak melakukan
interaksi dengan berbagai kelompok masyarakat di sekitarnya. Sebuah sekolah
harus dinamis atau terus mengalami perubahan melalui berhubungan dengan pihak
lain, dimana perubahan tersebut melibatkan berbagai pihak, antara lain untuk
membangun sebuah gedung membutuhkan tukang bangunan, untuk menyediakan konsumsi
membutuhkan katering, untuk menggandakan dokumen membutuhkan penerbit untuk
memasang instalasi air dan listrik membutuhkan petugas PDAM dan PLN dan lain
sebagainya.
Deskripsi di atas memperkuat hipotesis bahwa dinamika
kehidupan masyarakat merupakan salah satu yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar.
Hal ini sesuai dengan tujuan pembelajaran, yaitu membina mental yang sadar akan
tanggung jawab terhadap hak dirinya sendiri dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa
dan negara serta berupaya melatih keterampilan siswa baik keterampilan fisik maupun
kemampuan berpikirnya dalam mengkaji dan mencari pemecahan dari masalah sosial
yang dialaminya (Wahab 2009: 1.9).
B.
RUMUSAN MASALAH
1.
Apa yang dimaksud dengan masyarakat?
2.
Apa yang dimaksud dengan dinamika masyarakat?
3.
Apa yang dimaksud dengan sumber belajar?
4.
Apa yang dimaksud dengan masyarakat sebagai pusat belajar?
C.
TUJUAN
Mahasiswa dapat memahami apa yang dimaksud dengan masyarakat, dan dinamika yang ada di
masyarakat. Mahasiswa dapat mengetahui apa saja kriteria yang digunakan dalam
menentukan sumber belajar. Mahasiswa dapat mengetahui apa yang dimaksud dengan
masyarakat sebagai pusat belajar, dan dinamika apa saja yang terjadi
dimasyarakat sehingga terbentuk masyarakat sebagai pusat belajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
MASYARAKAT
a)
Definisi
Masyarakat
Para ilmuwan di bidang sosial sepakat tidak ada
definisi tunggal tentang Masyarakat, karena selalu berubah dari waktu ke waktu.
Pada akhirnya, pada ilmuwan tersebut memberikan definisi yang berbeda-beda
antara satu dengan yang lain. Berikut ini beberapa definisi masyarakat menurut
pakar sosiologi (Setiadi, 2013: 36):
1) Selo Soemardjan mengartikan masyarakat sebagai
orang-orang yang hidup bersama dan menghasilkan kebudayaan
2) Max Weber mengartikan masyarakat sebagai struktur atau
aksi yang pada pokoknya ditentukan oleh harapan dan nilainilai yang dominan
pada warganya
3) Emile Durkheim mendefinisikan masyarakat sebagai
kenyataan objektif individu-individu yang merupakan anggota-anggotanya. Kehidupan
sebuah masyarakat merupakan sebuah system sosial di mana bagian-bagian yang ada
di dalamnya saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan menjadikan
bagian-bagian tersebut menjadi suatu kesatuan yang terpadu.
Manusia akan bertemu dengan manusia lainnya dalam sebuah
masyarakat dengan peran yang berbeda-beda, sebagai contoh ketika seseorang
melakukan perjalanan wisata, pasti kita akan bertemu
dengan sebuah sistem wisata antara lain
biro wisata, pengelola wisata, pendamping
perjalanan wisata, rumah makan, penginapan dan lain-lain.
Adapun Soerjono Soekanto (1986: 27) mengemukakan
bahwa ciri-ciri kehidupan masyarakat adalah:
1)
Manusia yang
hidup bersama-sama sekurang-kurangnya terdiri
dari dua
orang individu
2)
Bercampur atau
bergaul dalam waktu yang cukup lama
3)
Menyadari
kehidupan mereka merupakan satu kesatuan
4)
Merupakan sistem
bersama yang menimbulkan kebudayaan sebagai akibat dari perasaan saling terkait
antara satu dengan lainnya.
b)
Dinamika Masyarakat
Manusia selalu memiliki rasa
untuk hidup berkelompok akibat dari keadaan lingkungan yang selalu berubah atau
dinamis. Perubahan-perubahan tersebut memaksa manusia memakai akal, kreativitas,
perasaan serta daya tahannya untuk menghadapinya seperti dalam kondisi suhu
udara dingin membutuhkan jaket yang dibuat di tukang jahit, dalam kondisi lapar
seseorang pergi ke warung untuk mencari makan, dalam kondisi sakit seseorang
berobat ke rumah sakit untuk kesembuhannya, untuk mencari ikan di tengah laut
seorang manusia membutuhkan kapal dan lain sebagainya.
Para ilmuwan di bidang
sosial sepakat bahwa kehidupan manusia tidak statis tetapi akan selau berubah
(dinamis), kondisi inilah yang disebut sebagai perubahan sosial. Menurut More (Narwoko,
2007: 362) perubahan sosial diartikan sebagai suatu perubahan penting dalam
struktur sosial, pola-pola perilaku dan sistem interaksi sosial, termasuk di dalamnya
perubahan nilai, norma, dan fenomena kultural. Sebuah perubahan akan selalu
hadir dalam perjalanan hidup manusia yang menjadi dinamika kehidupannya. Hanya
yang menjadi perbedaan adalah perubahan tersebut terjadi secara cepat atau
lambat, bahkan seseorang atau sekelompok orang sekalipun yang hidup di daerah terpencil
pasti akan mengalami dinamika kehidupan.
Dinamika atau perubahan
masyarakat dapat terjadi karena beberapa faktor (Salam, 2010: 258), antara
lain:
1)
Penyebaraan
informasi, meliputi pengaruh dan mekanisme media dalam menyampaikan pesan-pesan
ataupun gagasan (pemikiran)
2)
Modal, antara
lain sumber daya manusia ataupun modal financial
3)
Teknologi, suatu
unsur dan sekaligus faktor yang cepat berubah sesuai dengan perkembangan ilmu
pengetahuan
4)
Ideologi atau
agama, keyakinan agama atau ideologi tertentu berpengaruh terhadap porses
perubahan sosial
5)
Birokrasi,
terutama berkaitan dengan berbagai kebijakan pemerintahan tertentu dalam membangun
kekuasaannya
6)
Agen atau aktor,
hal ini secara umum termasuk dalam modal sumber daya manusia, tetapi secara spesifik
yang dimaksudkan adalah inisiatif-inisiatif individual dalam “mencari”
kehidupan yang lebih baik.
B.
SUMBER
BELAJAR
Istilah sumber belajar dalam
bidang pendidikan bukanlah istilah yang baru melainkan telah menjadi istilah
keseharian kita khususnya sebagai guru yang bertugas mengkondisikan anak untuk
belajar.Dalam proses pembelajaran banyak sumber yang dapat dimanfaatkan dan
dikelola, baik secara sengaja disediakan maupun yang telah banyak tersedia
disekeliling kita.
Dalam proses pembelajaran
semua pihak yang terlibat dalam pembelajaran memerlukan sumber yang dapat
menunjang proses pembelajaran. Association for Educational Communication
and Technology (AECT) (Zaman, 2006: 1) memberikan batasan
sumber belajar sebagai segala sesuatu yang berupa pesan,
manusia, bahan (software), peralatan (hardware), teknik (metode), dan lingkungan
yang digunakan secara sendirisendiri
maupun dikombinasikan untuk memfasilitasi terjadinya
kegiatan belajar. Muhtadi (2006: 4) menyimpulkan bahwa sumber belajar adalah
segala sesuatu yang dapat digunakan untuk membantu tiap orang untuk belajar
menampilkan kompetensinya.
Beberapa faktor sebagai
dasar pertimbangan yang menjadi kriteria perlu diperhatikan dalam pemilihan
sumber belajar (Kustiawan, 2013: 176) diantaranya sebagai berikut:
1)
Tujuan,
sumber belajar yang dipilih hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan pemakai yang
dilayani serta mendukung pendidikan.
2)
Anak,
sumber dan media pembelajaran yang kita pilih hendaknya benar-benar sesuai
dengan tingkatan kemampuan anak baik dari segi visualisasinya, tingkat
kosakatanya maupun pendekatannya terhadap tema maupun bidang pengembangan
tertentu.
3)
Ketepatgunaan,
sumber belajar dan media pembelajaran yang dipilih perlu didasarkan atas azas
manfaat dalam mengembangkan bidang kemampuan tertentu, untuk apa dan mengapa sesuatu
perlu dijadikan sumber belajar dipilih.
4)
Kepentingan,
pemilihan sumber belajar hendaknya berposisi ganda baik berada pada sudut
pandang pemakai (guru dan siswa) maupun dari kepentingan lembaga.
5)
Edukatif,
pemilihan sumber belajar harus didasarkan pada kajian edukatif dengan
memperhatikan program pendidikan yang berlaku, cakupan bidang pengembangan yang
dikembangkan, karakteristik peserta didik serta aspek-aspek lainnya yang berkaitan
dengan pengembangan pendidikan dalam arti luas.
6)
Kualitas teknis,
bahan-bahan yang dipilih hendaknya memenuhi persyaratan yaitu berdasarkan
tujuan artinya pemanfaatannya untuk membangkitkan minat, mendorong partisipasi,
merangsang pertanyaan, memperjelas masalah dan lain-lain.
7)
Keseimbangan fungsi, dalam pemilihan sumber belajar hendaknya memperhatikan pula
keseimbangan koleksi (well rounded collection) termasuk sumber belajar
pokok dan bahan penunjang sesuai dengan program pendidikan anak baik untuk kegiatan
pendidikan maupun sumber belajar penunjang untuk pembinaan bakat, minat dan
keterampilan yang terkait.
8)
Jaringan,
untuk memudahkan memilih sumber belajar yang baik perlu kiranya menyertakan
alat bantu penelusuran informasi seperti catalog, kajian buku, review atau
bekerjasama dengan sesama komponen fungsional seperti guru.
9)
Biaya,
antara biaya yang dikeluarkan hendaknya benar-benar seimbang dengan hasil yang
dapat dicapai
10) Ketersediaan, walaupun suatu media dikatakan tepat dan baik untuk mencapai
tujuan tertentu tetapi bila ternyata media tersebut tidak ada, tentu saja dalam
waktu yang cepat kita harus mengambil keputusan.
Sumber belajar ditinjau dari
segi pemanfaatannya dapat dibedakan menjadi dua (Najmulmunir, 2010: 2) yaitu :
1)
Sumber belajar
yang dirancang (learning resources by design), yakni sumber belajar yang
secara khusus dirancang atau dikembangkan sebagai komponen sistem instruksional
untuk memberikan fasilitas belajar yang terarah dan bersifat formal.
2)
Sumber belajar
yang dimanfaatkan (learning resources by utilization), yaitu sumber
belajar yang tidak didesain khusus untuk keperluan pembelajaran dan
keberadaannya dapat ditemukan, diterapkan dan dimanfaatkan untuk keperluan
pembelajaran.
C.
MASYARAKAT
SEBAGAI PUSAT BELAJAR
Dinamika
yang terjadi di masyarakat, dapat dijadikan sebagai sumber belajar dalam
pembelajaran, baik formal dan non formal, yang nantinya akan menjadikan masyarakat
sebagai pusat belajar.
a) Masyarakat Sebagai Tempat Terjadinya Proses-Proses Sosial
Masyarakat merupakan sebuah system yang saling
berhubungan antara satu manusia dengan manusia lainnya yang membentuk suatu
kesatuan. Manusia sebagai makhluk sosial membutuhkan manusia lainnya untuk
memenuhi kebutuhannya, mereka tidak dapat hidup sendiri dalam sebuah
masyarakat, akibatnya timbullah timbal balik atau interaksi antar manusia,
dengan kriteria-kriteria (Sitorus, 2003: 16) sebagai berikut:
1)
Harus ada pelaku
yang jumlahnya lebih dari satu.
2)
Ada komunikasi
antar pelaku dengan menggunakan symbol-simbol
3)
Ada dimensi
waktu (lampau, kini, mendatang) yang menentukan sifat aksi yang sedang
berlangsung.
4)
Ada
tujuan-tujuan tertentu, terlepas dari sama atau tidaknya tujuan tersebut dengan
yang diperkirakan pengamat.
Interaksi yang berlangsung selama hidup manusia menimbulkan sebuah kontak dan komunikasi
sosial, dimana kedua hal
tersebut merupakan sesuatu yang tidak dapat
dihindari jika dua orang manusia
bertemu. Kontak sosial terjadi jika seseorang
atau beberapa orang melakukan hubungan
dengan orang lain dan tidak harus
berupa hubungan secara langsung atau fisik.
Kontak sosial dapat berlangsung ketika
seseorang berbicara dengan orang lain
baik secara langsung maupun lewat telepon,
guru mengajar siswanya di dalam kelas,
pedagang melayani pembeli di pasar,
teller melayani nasabah yang ingin menabung
di sebuah bank, dokter mengobati
pasien di rumah sakit, bermain sepak bola
berhadapan antar team dan sebagainya.
Dengan demikian kontak sosial
adalah tindakan seseorang dalam berbagai
cara yang menjadikan sebab orang lain
yang menerima tindakan tersebut
melakukan tindakan sebagai akibat apa
yang diterimanya. Kontak
sosial dapat dibedakan menjadi beberapa
macam (Sitorus, 2003: 6) diantaranya
adalah:
Jika dilihat dari caranya, ada dua:
1)
Kontak sosial
langsung.
2)
Kontak sosial tidak
langsung.
Jika dilihat dari sifatnya, ada tiga:
1)
Kontak sosial
antara individu dan individu.
2)
Kontak sosial
antara individu dan kelompok.
3)
Kontak sosial
antara kelompok dan kelompok.
Jika dilihat dari bentuknya, ada dua:
1)
Kontak sosial
positif
2)
Kontak sosial
negatif
Jika dilihat dari tingkat hubungannya, ada dua:
1)
Kontak sosial
primer
2)
Kontak sosial
sekunder
Senada dengan kontak sosial,
komunikasi merupakan tindakan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan
cara saling memberikan arti terhadap simbol, tanda, gerakan, suara maupun
tulisan yang disampaikan. Lewat pemberian arti ini seseorang yang menerima
simbol, tanda, gerakan, suara maupun tulisan tersebut melakukan tindakan sesuai
yang diberikan oleh seseorang yang memberikannya.
b)
Masyarakat sebagai
Tempat Sosialisasi
Manusia sebagai anggota
masyarakat terikat oleh sebuah aturan yang berlaku di dalam masyarakatnya.
Aturan tersebut diwujudkan dalam bentuk norma dan nilai yang berbeda-beda
antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya. Hal ini disebabkan karena kebutuhan,
kebiasaan, kepercayaan, kesenian, bahasa serta tata kelakuan yang berbeda
antara masyarakat di suatu daerah dengan daerah lainnya.
Dengan adanya norma dan
nilai tersebut kehidupan masyarakat akan menjadi teratur dan terkendali
sehingga terciptalah kondisi yang kondusif dalam melangsungkan hidupnya. Norma
dan nilai pada suatu masyarakat bentuknya berupa tradisi yang turun temurun dan
bahkan kadang dalam bentuk yang tidak tertulis. Namun masyarakat yang memilki
norma tersebut senantiasa menjaganya dengan selalu membiasakan norma dan nilai
yang ada kepada generasi penerus mereka, baik dalam kepercayaan, kesenian,
bahasa atau dalam bentuk lainnya.
Proses belajar mengenal
sebuah norma atau nilai pada suatu masyarakat dalam bentuk kebiasaan inilah
yang dinamakan dengan sosialisasi. Berikut ini adalah batasan sosialisasi yang
diberikan oleh para pakar:
1)
Soerjono
Soekamto, sosialisasi merupakan proses di mana anggota masyarakat yang baru
mempelajari norma-norma dan nilai-nilai masyarakat di mana ia menjadi anggota
(Murdiyatmoko, 2004: 94).
2)
Bruce J. Cohen,
mendefinisikan sosialisasi sebagai proses-proses manusia mempelajari tata cara kehidupan
dalam masyarakat, untuk memperoleh kepribadian dan membangun kapasitasnya agar berfungsi
dengan baik sebagai individu maupun sebagai anggota kelompok (Idianto, 2004:
115).
Melalui proses sosialisasi
seseorang atau sekelompok orang menjadi mengetahui dan memahami bagaimana ia atau
mereka harus bertingkah laku di lingkungan masyarakatnya, juga mengetahui dan
menjalankan hak-hak dan kewajibannya berdasarkan perananperanan
yang dimilikinya. Dalam pelaksanaannya, sosialisasi dilakukan
dengan dua cara (Setiadi, 2013: 159), yaitu:
1)
Sosialisasi
represif (repressive socialization) adalah sosialisasi yang di dalamnya
terdapat sanksi jika pihak-pihak yang tersosialisasi seperti anak atau
masyarakat melakukan pelangaran. Contoh: orang tua yang memberikan hukuman
fisik kepada anak yang dianggap melakukan pelanggaran.
2)
Sosialisasi
partisipatif (participative socialization) adalah sosialisasi yang
berupa rangsangan tertentu agar pihak yang tersosialisasi mau melakukan suatu
tindakan, rangsangan tersebut misalnya berupa hadiah (rewards). Contoh:
seorang anak yang giat belajar dan nantiny naik kelas biasanya orang tua merangsangnya
dengan menjanjikan hadiah kepada anak
BAB III
PENUTUP
A.
SIMPULAN
Dari uraian singkat di atas
dapat ditarik kesimpulan yaitu dinamika masyarakat dimana di dalamnya terjadi berbagai
gejala-gejala sosial antara lain proses-proses sosial dan sosialisasi dapat dijadikan
sebagai salah satu sumber dalam mengetahui masyarakat sebagai pusat belajar.
Dimana keberadaan masyarakat sebagai sumber belajar ini diharapkan membantu
mahasiswa dalam hal pembinaan mental yang sadar akan tanggung jawab terhadap hak
dirinya sendiri dan kewajiban kepada masyarakat, bangsa dan Negara serta berupaya
melatih keterampilan mahasiswa baik keterampilan fisik maupun kemampuan
berpikirnya dalam mengkaji dan mencari pemecahan dari masalah
A.
DAN
SARAN
Sebaiknya dalam setiap komponen masyarakat lebih
terdapat korelasi yang baik, agar kelemahan-kelemahan yang terjadi dapat di
minimalisir, dan untuk melihat ketecapaian atau keberhasilan suatu masyarakat
yang dapat dijadikan sebagai pusat belajar.
DAFTAR PUSTAKA
Muhtadi, Ali. 2012. Manajemen Sumber Belajar.
Yogyakarta: FIP UNY.
Najmulmunir, Nandang. 2010. Memanfaatkan Lingkungan di
Sekitar Sekolah Sebagai Pusat Sumber Belajar. Region, 2 (4): 1-9
0 Comments