Ad Code

Adil Adalah Meletakkan Sesuatu Pada Tempatnya

Ticker

6/recent/ticker-posts

Pengembangan Kurikulum 2


PERLUNYA GURU MENGETAHUI PRINSIP DAN MODEL PERKEMBANGAN KURIKULUM
Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan
Pendidkan Luar Sekolah
Tarmidi (2221160018)
ABSTRAK
kegiatan pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi. Kurikulum di Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum salah satunya dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya dalam kurikulum berbasis kompetensi dimana dalam prinsip pengembangan ini juga memperhatikan beberapa aspek mendasar tentang karakteristik bangsa.
Kurikulum di Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum salah satunya dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya dalam kurikulum berbasis kompetensi dimana dalam prinsip pengembangan ini juga memperhatikan beberapa aspek mendasar tentang karakteristik bangsa. Dalam makalah ini juga disebutkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang harus dijadikan acuan oleh pendidik dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), serta prinsip-prinsip pengembangan kurikulum pada pendidikan anak usia dini. Kurikulum merupakan hala yang pokok dalam dunia pendidikan. Hal-hal yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan dipandang sebagai kurikulum. Pengertian kurikulum yang semakin meluas, sehingga membuat para pelaksana kurikulum memberikan batasan sendiri terhadap kurikulum.
Oleh sebab itu sangatlah penying para guru di Indonesia mengetahui prinsip- primsip dan model perkembanga kurikulum yang ada di Indonesia guna meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.













ABSTRACT
curriculum development activities as a continuous process, is a cycle that concerns some curriculum that is component of objective, material, activity and evaluation. Curriculum in Indonesia changes from time to time in accordance with the development of science and demands in society. Application of curriculum development principles one of them is explained by Dr. Vienna Sanjaya in a competency-based curriculum where in principle this development also pay attention to some fundamental aspects about the characteristics of the nation.
Curriculum in Indonesia changes from time to time in accordance with the development of science and demands in society. Application of curriculum development principles one of them is explained by Dr. Vienna Sanjaya in a competency-based curriculum where in principle this development also pay attention to some fundamental aspects about the characteristics of the nation. This paper also mentions the principles of curriculum development that should be used by educators in the educational unit level curriculum set by the National Education Standards Board (BSNP), as well as curriculum development principles in early childhood education. The curriculum is a fundamental issue in education. Matters relating to the attainment of educational goals are seen as curricula. Understanding the curriculum is increasingly widespread, thus making the curriculum implementers provide their own limits on the curriculum.
Therefore, it is very important that teachers in Indonesia know the principles and model of curriculum development in Indonesia.




















PENDAHULUAN
Kurikulum merupakan salah satu komponen yang memiliki peran penting dalam system pendidikan, karenadalamkurikulum bukan hanya dirumuskan tentang tujuan yang harus dicapaisehingga memperjelas arah pendidikan,akan tetapi juga memberikan pemahaman tentang pengalaman belajar yang harus dimiliki setiap siswa.
Kurikulum dan pengajaran merupakan hal yang tidak terpisahkan walaupun keduanya memiliki posisi yang berbeda. Kurikulum berfungsi sebagai pedoman yang memberikan arah dantujuan pendidikan, sertaisi yang harus dipelajari. Kurikulum tidak akan bermakna manakala tidak diimplementasikan dalam bentuk pembelajaran, tanpakurrikulum yang jelas sebagai acuan, maka pembelajaran tidak akan berlangsung secara efektif.
Cara untuk mengembangkan kurikulum tidaklah mudah, oleh karena itu dalam mengembangkan kurikulum harus memperhatikan system nilai yang berlaku, perubahan-perubahan yang terjadi di masyarakat maupun memperhatikan segala aspek yang terdapat pada peserta didik. Kurikulum secara terus-menerus dievaluasi dan dikembangkan agar isi dan muatannya selalu relevan deengan tututan masyarakat yang selalu berubah sesuai dengan perkembangan zaman maupun perkembangan ilmudan teknologi.
Dalam dunia pendidikan dibutuhkan yang dinamakan kurikulum yang membantu dalam mencapai tujuan pendidikan Nasional. Berbagai jenis dalam pengembangan kurikulum dipakai oleh pemerintahan Indonesia dalam mencapai cita-cita bangsa yakni mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencetak generasi penerus bangsa yang berakhlaq serta berbudi pekerti luhur. Hal ini perlu adanya kerja sama antara Pemerintah pusat, administrator, kepala kantor wilayah pendidikan, kebudayaan, serta peranan guru dalam pendidikan. Banyak model yang dapat digunakan dalam pengembangan kurikulum. Pemilihan suatu model pengembangan kurikulum bukan saja berdasarkan atas kelebihan dan kebaikan-kebaikannya serta kemungkinan pencapaian hasil yang optimal, tetapi juga perlu disesuaikan dengan sistem pengelolaan pendidikan yang dianut serta konsep pendidikan yang digunakan. Model pengembangan kurikulum dalam sistem pendidikan dan pengolaan yang sifatnya sentralisasi berbeda dengan yang desentralisasi. Model pengembangan dalam kurikulum yang bersifat subjek akademis berbeda dengan kurikulum humanistik, teknologis dan rekonstruksi sosial.
Kurikulum di Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum salah satunya dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya dalam kurikulum berbasis kompetensi dimana dalam prinsip pengembangan ini juga memperhatikan beberapa aspek mendasar tentang karakteristik bangsa. Dalam makalah ini juga disebutkan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum yang harus dijadikan acuan oleh pendidik dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), serta prinsip-prinsip pengembangan kurikulum pada pendidikan anak usia dini. Kurikulum merupakan hala yang pokok dalam dunia pendidikan. Hal-hal yang berhubungan dengan pencapaian tujuan pendidikan dipandang sebagai kurikulum. Pengertian kurikulum yang semakin meluas, sehingga membuat para pelaksana kurikulum memberikan batasan sendiri terhadap kurikulum.
Namun perbedaan pengertian tersebut tidak menjadi masalah yang besar terhadap pencapaian tujuan pendidikan, apabila kurikulum tetap berpegang pada prinsip-prinsip yang mendasarinya. Perwujudan prinsip, aspek dan konsep kurikulum tersebut terletak pada guru. Sehingga guru memiliki tanggung jawab terhadap tercapainya tujuan kurikulum itu sendiri.
Oleh karena itu, seorang pelaksana kurikulum perlu mengetahui dan melaksanakan prinsip-prinsip apasaja yang terdapat dalam kurikulum. Namun hal ini sering diabaikan oleh para pelaksana kuikulum, sehingga pencapaian tujuan pendidikan tidak optimal atau bahkan melenceng dari tujuan sebenarnya. Hal ini yang mendasari penulis untuk menyusun makalah yang berjudul prinsip prinsip pengembangan kurikulum. Salah satunya yaitu agar para pelaksana kurikulum dapat memahami dan melaksanakan prinsip tersebut.
KAJIAN LITERATUR
Pengembangan kurikulum adalah sebuah proses yang merencanakan, menghasilkan suatu alat yang lebih baik dengan didasarkan pada hasil penilaian terhadap kurikulum yang telah berlaku, sehingga dapat memberikan kondisi belajar mengajar yang baik. Dengan kata lain pengembangan kurikulum adalah kegiatan untuk menghasilkan kurikulum baru melalui langkah-langkah penyusunan kurikulum atas dasar hasil penilaian yang dilakukan selama periode waktu tertentu. Prinsip kurikulum dapat juga dikatakan sebagai aturan yang menjiwai pengembangan kurikulum. Prinsip tersebut mempunyai tujuan agar kurikulum yang didesain atau dihasilkan sesuai dengan permintaan semua pihak yakni anak didik, orangtua, masyarakat dan bangsa.
Pada umumnya ahli kurikulum memandang kegiatan pengembnagn kurikulum sebagai suatu proses yang kontinu, merupakan suatu siklus yang menyangkut beberapa kurikulum yaitu komponen tujuan, bahan, kegiatan dan evaluasi. Kurikulum di Indonesia mengalami perubahan dari masa ke masa sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan tuntutan dalam masyarakat. Penerapan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum salah satunya dijelaskan oleh Dr. Wina Sanjaya dalam kurikulum berbasis kompetensi dimana dalam prinsip pengembangan ini juga memperhatikan beberapa aspek mendasar tentang karakteristik bangsa.
Menurut Good (1972) dan Travers (1973), model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa kompleks atau sistem, dalam bentuk naratif, matematis, grafis, serta lambang-lambang lainnya. Model bukanlah realitas, akan tetapi merupakan representasi realitas yang dikembangkan dari keadaan. Dengan demikian, model pada dasarnya berkaitan dengan rancangan yang dapat digunakan untuk menerjemahkan sesuatu sarana untuk mempermudah berkomunikasi, atau sebagai petunjuk yang bersifat perspektif untuk mengambil keputusan, atau sebagai petunjuk perencanaan untuk kegiatan pengelolaan.
Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah sebagai berikut :
a.       model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia,
b.       model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian,
c.        model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks,
d.       model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan

PEMBAHASAN
Prinsip Pengembangan Kurikulum
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Dalam pengembangan kurikulum, dapat menggunakan prinsip-prinsip yang telah berkembang dalam kehidupan sehari-hari atau justru menciptakan sendiri prinsip-prinsip baru. Oleh karena itu, dalam implementasi kurikulum di suatu lembaga pendidikan sangat mungkin terjadi penggunaan prinsip-prinsip yang berbeda dengan kurikulum yang digunakan di lembaga pendidikan lainnya, sehingga akan ditemukan banyak sekali prinsip-prinsip yang digunakan dalam suatu pengembangan kurikulum.  
Agar kurikulum dapat berfungsi sebagai pedoma, maka ada sejumlah prinsip dalam proses pengembangannya. Berikut merupakan prinsip pengembangan kurikulum secara umum yang diangggap penting yakni:
a.       Prinsip Relevansi
Merupakan pengalaman-pengalaman belajar yang disusun dalam kurikulum harus relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ada dua macam relevansi yaitu:
1.       Relevansi internal
Adalah bahwa setiap kurikulum harus memilki keserasian antara komponen-komponennya, yakni keserasian antara tujuan yang harus dicapai, isi, materi atau pengalaman belajar yang harus dimiliki siswa, strategi atau metode yang digunakan serta alat penilaian untuk melihat ketercapaian tujuan. Relevansi internal menunjukkan keutuhan suatu kurikulum.
2.       Relevansi ekternal
Adalah berkaitan dengan keserasian antara tujuan,  isi dan proses belajar siswa yang tercakup daam kurikulum dengan kebutuhan dan tuntutan masyarakat. Ada 3 macam relevansi eksternal dalam pengembangan kurikulum yakni :
a.       Relevan dengan lingkungan  hidup peserta didiknya
maksudnya bahwa proses pengambangan dan penetapan isi kurikulum hendaklah sesuai ddengankondisi lingkungan sekitar siswa. Contoh: untuk siswa yang berada di daerah perkotaan perlu diperkenalkan kehidupan dilingkungan kot, seperti keramaian, rambu-rambu lalu lintas, tata cara dan pelayanan jasa bank, kantor pos, da sebagainya. Demikian juga untuk sekolah didaerah pantai, perlu diperkenalkan bagaimana kehidupan dipantai seperti mengenai tambak, kehidupan nelayan, koperasi, pembibitan udang dan sebgainya.
b.       Relevan dengan perkembangan zaman baik sekarangmaupun denganmasa yang akan datang
maksudnya isi kurikulum harus sesuai dengan mondisi yang sedang berkembang. Selain itu juga yang diajarkan kepada siswa nantinya harus bermanfaat untuk kehidupan siswa pada waktuyang akan datang. Contoh : untuk waktu yang akan datang penggunaan computer dan internet akan menjadi salah satu kebutuhan maka dengan demikian bagaimana cara memanfaatkan computer dan bagiaman cara mendapatkan informasi dari internet sudah harus diperkenalkan kepada siswa. Demikian juga dengan kemampuan berbahasa, pada masa yang akan datang ketika pasar bebas seperti persetujuan APEC mulai berlaku, maka masyarakat akan dihadapkan  kepada persaingan merebut ppasar kerja dengan orang asing, oleh karena itu keterampilan berbahasa asing sudah harus dimulai sejak sekarang.
c.        Relevan dengan tuntutan dunia pekerjaan
maksudnya apa yang diajarkan di sekolah harus mampu memenuhi dunia kerja. Contohnya : untuk sekolah kejuruan ekonomi dahulu diajarkan bagaimana cara siswa bisa menggunakan mesin TIK sebagai  alat untuk keperluan surat menyurat, sedangkan sekarang mesin tik tidak digunakan lagi yang banyak digunakan adalah computer.  Maka mengoperasikan computer harus diajarkan. Demikan juga dengan dunia kerja seperti kepariwisataan, perbankan, asuransi, perhotelan dan sebagainya. Isi kurikulum harus menyesuaikan dengan tuntutan pekerjaan di setiap bidang.
Untuk memenuhi prinsip relevansi maka dalam proses pengembangan sebelum ditentukan apa yang menjadi issi dan model kuurikulum yang akan digunakan, maka perludilakukan studi pendahuluan dengan menggunakan berbagai metode dan pendekatan seperti melkukan survey kebutuhan dan tunuttan masyarakat atau meelakukan studi tentang jenis-jenis pekerjaan yang dibutuhkan oleh setiap lembaga atau instansi.
b.       Prinssip fleksibilitas
Merupakan kurikulum harus bisa dilaksanakan sesuai dengan kondisi yang ada. Kurikulumyang kaku atau tidak fleksibel akan sulit diterapkan. Prinsip fleksibel memiliki dua sisi yakni :
1.       Fleksibel bagi guru, maksudnya kurikulum harus memberikan ruang gerak bagi guru untuk mengembangkan program pengajarannya sesuai dengan kondisiyang ada.
2.       Fleksibel bagi siswa, maksudnya kurikulum harus meyediakan berbagai kemungkinan program pilihan sesuai dengan bakat dan minat siswa.
c.        Prinsip kontuinitas
Merupakan perlunya pejagaan antara keterkaitan dan kesinambungan antara materi pelajaran pada berbagai jenjang dan jenis program pendidikan. Dalam penyusunan materi perlu dijaga agar apa yang diperlukan untuk mempelajari suatu materi pelajaran pada jenjang yang lebih tinggi telah diberikan dan dikuasai oleh siswa pada waktu mereka berada pada jenjang sebelumnya. Prinsip ini sangat penting bukan hanya untuk menjaga agar tidak terjadi pengulangan materi pelajaran yang memungkinkan program pengajaran tidak efektif dan efesien akan tetapi juga untuk keberhasilan siswa dalam menguasai materi pelajaran pada jenjang peendidikan tertentu
Untuk menjaga prinsip ini terus berjalan, maka perlu ada kerja sama natara pengembagan kurikulum pada setiap jenjang pendidikan, misalnya para pengembang pendidikan pada jenjang sekoolah dasar, jenjang SLTP, jenjang SLTA dan bahkan dengan para pengembang kurikulum di perguruan tinggi.
d.       Efektifitas
Merupakan rencana  dlam suatu kurikulum dapat ddilaksanakan dan dapat ddicapai dalam kegiatan belajar mengajar. Terdapat dua sisi efektifitas dalam suatu pengembangan kurikulum yakni :
1.       Efektifitas berhubungan dengan kegiatan guru dalam melaksanakan tugas mengimplementasikan kurikulum didalam kelas. Contoh: apabila guru menerapkan dalam satu caturwulan atau satu semester harus menyelesaikan 12 program pembeajaran sesuai dengan pedoman kurikulum, ternyata dalam jangka waktu tersebut hanya dapat menyelesaikan 4 atau 5 program saja, berarti dapat dikatakan bahwa pelaksanaaan program itu tidak efektif.
2.       Efektifitas kegiatan siswa dalam melaksanakan kegiatan belajar. Contoh: apabila diterapkan dalam satu catur wulan siswa harus dapat mencapai sejumlah tujuan pembelajaran tenrnyata hanya sebgaian saja yang dapat dicapai oleh siswa, dapat dapat dikatakan bahwa proses pembelajaran siswa tidak efektif.
e.        Efesiensi
Merupakan prinsip yang berhubungan dengan perbandingan antara tenaga, waktu, suara dan biaya yang dikeluarkan dengan hasil nilai yang diperoleh.s kurikulum dikatakan memiliki tingkat efesiensi yang tinggi apabila dengan sarana, biaya yang minimal dan waktu yang terbatas dapat memperoleh hasil yang maksimal. Begitu bagus dan idealnya suatu kurikulum apabila menurut peralatan, sarana dan prasarana yang sangat khusus serta mahal pula harganya, maka kurikulum itu tidak praktis dan sukar untuk dilaksanakan. Kurikulum harus dirancang untuk dapat digunakan dalam segala keterbatasan.
Sedangakan prinsip pengeembangan kurikulum secara khusus yakni :
1.       prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan,
2.       prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan,
3.       prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar,
4.       prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan
5.       prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Terkait dengan pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, terdapat sejumlah prinsip-prinsip yang harus dipenuhi, yaitu :
1.       Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Kurikulum dikembangkan berdasarkan prinsip bahwa peserta didik memiliki posisi sentral untuk mengembangkan kompetensinya agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut pengembangan kompetensi peserta didik disesuaikan dengan potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik serta tuntutan lingkungan.
  1. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan keragaman karakteristik peserta didik, kondisi daerah, dan jenjang serta jenis pendidikan, tanpa membedakan agama, suku, budaya dan adat istiadat, serta status sosial ekonomi dan gender. Kurikulum meliputi substansi komponen muatan wajib kurikulum, muatan lokal, dan pengembangan diri secara terpadu, serta disusun dalam keterkaitan dan kesinambungan yang bermakna dan tepat antarsubstansi.
  2. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Kurikulum dikembangkan atas dasar kesadaran bahwa ilmu pengetahuan, teknologi dan seni berkembang secara dinamis, dan oleh karena itu semangat dan isi kurikulum mendorong peserta didik untuk mengikuti dan memanfaatkan secara tepat perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni.
  3. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Pengembangan kurikulum dilakukan dengan melibatkan pemangku kepentingan (stakeholders) untuk menjamin relevansi pendidikan dengan kebutuhan kehidupan, termasuk di dalamnya kehidupan kemasyarakatan, dunia usaha dan dunia kerja. Oleh karena itu, pengembangan keterampilan pribadi, keterampilan berpikir, keterampilan sosial, keterampilan akademik, dan keterampilan vokasional merupakan keniscayaan.
  4. Menyeluruh dan berkesinambungan. Substansi kurikulum mencakup keseluruhan dimensi kompetensi, bidang kajian keilmuan dan mata pelajaran yang direncanakan dan disajikan secara berkesinambungan antarsemua jenjang pendidikan.
  5. Belajar sepanjang hayat. Kurikulum diarahkan kepada proses pengembangan, pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Kurikulum mencerminkan keterkaitan antara unsur-unsur pendidikan formal, nonformal dan informal, dengan memperhatikan kondisi dan tuntutan lingkungan yang selalu berkembang serta arah pengembangan manusia seutuhnya.
  6. Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum dikembangkan dengan memperhatikan kepentingan nasional dan kepentingan daerah untuk membangun kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kepentingan nasional dan kepentingan daerah harus saling mengisi dan memberdayakan sejalan dengan motto Bhineka Tunggal Ika dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pemenuhan prinsip-prinsip di atas itulah yang membedakan antara penerapan satu Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan dengan kurikulum sebelumnya, yang justru tampaknya sering kali terabaikan. Karena prinsip-prinsip itu boleh dikatakan sebagai ruh atau jiwanya kurikulum. Dalam mensikapi suatu perubahan kurikulum, banyak orang lebih terfokus hanya pada pemenuhan struktur kurikulum sebagai jasad dari kurikulum . Padahal jauh lebih penting adalah perubahan kutural (perilaku) guna memenuhi prinsip-prinsip khusus yang terkandung dalam pengembangan kurikulum.
Model Pengembangan Kurikulum
Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan, setiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pengembangan sesuai dengan pendekatannya.

a.       Model Tyler
Pengembangan kurikulum model ini yang dapat ditemukan di buku klasik yang sampai sekarang banyak dijadikan rujukan dalam dalam proses pengembangan kurikulum yangberjudul Basic Principles of Curriculum and Intruction. Model pengembnagn kurikulum ini bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu institusi pendidikan. Dengandemikian model initidak menguraikan pengembangan kurikulum dalam bentuk langkah-langkah konkrit atau tahapan-tahapan secara rinci. Menurut Tyler ada 4 hal yang dianggap fundamental untuk mengembangkan kurikulum yakni :
1.       Berhubungan dengan tujuan pendidikan yang ingin dicapai
2.       Berhubungan dengan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan
3.       Pengorganisasian pengalaman belajar
4.       Berhubungan dengan evaluasi
b.       Model Taba
Model ini lebih menitikberatkan kepada bagaimana mengembangkan kurikulum sebagain suatu proses perbaikan dan penyempurnaan. Oleh karena itu dalam model ini dikembangkan tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh para pengembang kurikulum. Secara umum model kurikulum dikembangkan secara deduktif. Tetapi,kurikulum yang dikembangkan oleh Taba menggunakan cara pengembanganinduktif. Oleh karena itu dinamakan model terbalik. Pengembangan model inidiawali dengan melakukan percobaan dan penyusunan teori serta diikuti dengantahapan implemen-tasi. Hal dilakukan guna mempertemukan teori dan praktek.Sukmadinata (2005:166) dan Ahmad (1998: 57) merangkum lima langkahyang menjadi dasar dalam pengembangan kurikulum model Taba.
1.       Mengadakan unit-unit eksperimen bersama guru
Penyusunan unit diawali dengan mendiagnosis kebutuhan serta dilanjutkandengan merumuskan tujuan. Kegiatan ini juga mempertimbangkan keseimbanganantara kedalaman serta keluasan materi pelajaran yang akan disusun.
2.       Menguji unit eksperimen
Setelah unit-unit dibuat, langkah selanjutnya adalah mengujicobakan unittersebut. Tujuan dari uji coba unit untuk melihat kelayakan serta validitas unit-unitdalam pengajaran. Dari hasil ini dapat diketahui layak atau tidak suatu unitdiimplementasikan.
3.       Mengadakan revisi dan konsolidasi
Langkah ini dilakukan jika hasil pada langkah kedua menunjukkan perlunyaperbaikan dan penyempurnaan unit-unit yang telah disusun..
4.       Mengembangkan keseluruhan kerangka kurikulum
Apabila proses penyempurnaan telah dilakukan secara menyeluruh makalangkah berikutnya mengkaji kerangka kurikulum yang dilakukan oleh para ahlikurikulum dan profesional lainnya.
5.       Melakukan implementasi dan desiminasi
Langkah ini merupakan langkah terakhir yang berarti kurikulum telah siappakai untuk wilayah yang lebih luas (desiminasi).
c.        Model Olivia
Menurut model ini kurikulum harus bersifat simple, komperhensif dan sistematik. Model ini menggambarkan model pengembangang kurikulum seperti :
Model pengembangan kurikulum yang dikemukakan oleh Olivia, terdiri dari 12 komponen yangharus dikembangkan yakni:
1.       Komponen I adalah perumusan filosofis, sasaran, misi serta visi lembaga pendidikan yang semuanya bersumber dari analisis kebutuhan siswa dan analisis kebutuhan masyarakat. Komponen ini berisikan pertanyaan-pertanyaan yang bersifat umum dan sangat ideal.
2.       Komponen II adalah analisis kenutuhan masyarakat dimana sekolah itu berada, kenutuhan siswa dan urgensi dari disiplin ilmu yangharus diberikan oleh sekolah. Komponen ini mengarah pada tujuan yang lebih khusus.
3.       Komponen III dan IV adalah komponen yang berisikan tentang tujuan umum dan tujuan khusus kurikulum didasarkan kepada kebutuhan seperti yang tercantum dalam komponen I dan II.
4.       Komponen V adalah bagaimana mengorgani-sasikan rancangan dan mengimplementasikan kurikulum.
5.       Komponen VI dan VII adalah komponen yang mulai menjabarkan kurikulumdalam bentuk perumusan tujuan umum dan tujuan khusus pembelajaran.
d.       Model Beauchamp
Beauchamp mengemukakan ada 5 langkah dalam proses pengembangan kurikulum yakni :
1.       Menetapkan wilayah atau  arena yang akan melakukan perubahan suatu kurikulum. Wilayah itu bisa terjadi pada hanya satu sekolah, satu kecamatan, kabupaten, atau mungkin tingkat provinsi dan tingkat nasional.
2.       Menetapkan orang-orang yang akan terlibat dalam proses pengembangan kurikulum. Orang-orang yang harus dilibatkan terdiri dari para ahli/spesialis kurikulum, para ahli pendidikan termasuk didalamnya para guru dianggap berpengalaman, profesioal lain dalam bidang pendidikan (seperti pustakawan, laporan, konsultan pendidikan dan sebagainya), dan para profesional dalam bidang lain beserta paratokoh masyarakat (para politikus, industriawan, pengusaha, dan sebagainya).
3.       Metapkan prosedur yang akan ditempuh, yaitu dalam hal merumuskan tujuan umu dan tujuan khusus, memilih isi dan pengalaman belajar serta menetapkan evaluasi. Keseluruhan prosedur itu selanjutnya dapat dibagi dalam 5 langkah yakni :
a.     Membentuk tim pengembang kurikulum
b.     Melekukan penilaian terhadap kurikulum yang sedang berjalan
c.     Melekukan studi atau penjajahan tentang penentuan kurikulum baru
d.     Merumuskan criteria dan alaternatif pengembangan kurikulum
e.     Menyusun dan menulis kurikulum yang dikehendaki
4.       Implemmentasi kurikulum, yakni perlu mempersiapkan secara matang berbagai hal yang dapat berpengaruh baik langsung maupun tidak langsung terhadap efektifitas penggunaan kurikulum.seperti pemehaman guru tentang kurikulum itu, sarana dan fasilitas yang tersedia, manajemen sekolah, dan seebagainya.
5.       Meleksanakan evaluasi kurikulum yang menyangkut :
a.     Evaluasi terhadap pelaksanaan kurikulum oleh guru-guru di sekolah
b.     Evaluasi terhadap desain kurikulum
c.     Eveluasi keberhasilan anak didik
d.     Evaluasi system kurikulum
e.        Pengembangan Kurikulum di Indonesia
Dalam sejarah pendidikan di Indonesia, pada rentang waktu tahun 1945 - 1949 dikeluarkan 1947. Tahun 1950 -1961, ditctapkan kurikulum 1952. Kurikulum terakhir pada masa orde lama adalah kurikulum 1964. Masa Orde Baru lahir empat kurikulum. Kurikulum 1968 ditetapkan dan berlaku sampai tahun 1975. Selanjutnya muncul Kurikulum 1975. Pada tahun 1984 dihuat kurikulum baru dengan nama Kurikulum 1975, yang disempurnakan dengan Cara Belajar Siswa Aktif. Pada tahun 1994, dikeluarkan kurikulum baru, yakni Kurikulum 1994. Kurikulum ini menjadi kurikulum terakhir yang dikeluarkan oleh Orde baru. Menurut pendapat kami. KTSP merupakan kombinasi dari model Ralph Tyler dan model Hilda Taba. Di satu sisi KTSP bersifat deduktif (Model Tyler), karena dalam KTSP tujuan pendidikan itu mengacu pada Tujuan PendidikanNasional. Namun, .jika dilihat dari sisi lain, KTSP bisa bersifat induktif (Model Taba), karena dalam KTSP diberikan kewenangan atau keleluasaan bagi guru untuk berpikir dan bekerja kreatif sesuai dengan kebutuhan siswa dan juga menggali potensi lingkungan. Melalui KTSP sekolah-sekolah diberi kebebasan menyusun kurikulum sendiri dengan konteks lokal, kemampuan dan kebutuhan siswa serta ketersediaan sarana prasarana.
Model dapat membantu kita membentuk konsep dari sebuah proses dengan menunjukkan prinsip-prinsip dan prosedur-prosedur tertentu. Dimana beberapa model berbentuk diagram, ada pula model yang berupa daftar langkah-langkahyang direkomendasi oleh pembuat kurikulum. Beberapa model linear, dengan pendekatan langkah demi langkah, dan ada model yang berangkat dari urutan langkah-langkah yang pasti/tetap. Ada pula model yang menawarkan pendekataninduktif dan ada yang mengikuti pendekatan deduktif. Beberapa model bersilat preskriptif, yang lain bersifat deskriptif.
Proses pendidikan di negara kita belum menekankan kermandirian dan perkembangan multidimensi individu. Karena itu, pendidikan di negara kita seharusnya menempatkan perkembangan integral anak sebagai orientasi utama. Dengan kata lain kemerdekaan individu anak tetap harus dikedepankan sebagai praktek pendidikan sejati, visi kemerdekaan tidak dapat dikontraskan dengan kepentingan kolektif dalam wadah negara. Tujuan pedagogis (yakni perkembangan anak) dan kepentingan negara harus disinergikan dalam kebijakan dan praktek pendidikan.

KESIMPILAN
Prinsip-prinsip yang akan digunakan dalam kegiatan pengembangan kurikulum pada dasarnya merupakan kaidah-kaidah atau hukum yang akan menjiwai suatu kurikulum. Pengembangan kurikulum secara umum yang diangggap penting yakni  : Prinsip Relevansi, Prinssip fleksibilitas, Prinsip kontuinitas, Efektifitas, Efesiensi. Sedangakan prinsip pengeembangan kurikulum secara khusus yakni:
a.       prinsip berkenaan dengan tujuan pendidikan,
b.       prinsip berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan,
c.        prinsip berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar,
d.       prinsip berkenaan dengan pemilihan media dan alat pelajaran, dan
e.        prinsip berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.
Nadler (1988) menjelaskan bahwa model yang baik adalah model yang dapat menolong si pengguna untuk mengerti dan memahami suatu proses secara mendasar dan menyeluruh. Selanjutnya ia menjelaskan manfaat model adalah :
a.         model dapat menjelaskan beberapa aspek perilaku dan interaksi manusia,
b.         model dapat mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil observasi dan penelitian,
c.          model dapat menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks,
d.         model dapat digunakan sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan.
Dalam pengembangan kurikulum ada beberapa model yang dapat digunakan, setiap model memiliki kekhasan tertentu baik dilihat dari keluasan pengembangan kurikulumnya itu sendiri maupun dilihat dari tahapan pengembangan sesuai dengan pendekatannya. 

DAFTAR PUSTAKA
Sukmadinata, Nana syaodih. 2015. Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT REMAJA ROSDAKARYA


Post a Comment

0 Comments

Ad Code

Responsive Advertisement